Tepat 49 tahun lalu di Utrecht, salah satu kota terpadat di Belanda, lahir seorang legenda yang selalu disebut-sebut sebagai salah satu striker terhebat sepanjang masa, Marco van Basten. Bernama asli Marcel van Basten, pria bertinggi 188 cm ini sukses menceploskan total 288 gol sepanjang karier singkatnya.

Ia boleh saja berjuluk The Swan of Utrecht, White Tulip, ataupun The Flying Dutchman, namun para penggemar AC Milan, Ajax, dan Belanda hanya mau memanggilnya dengan satu nama saja: Van Basten! Gaya bermainannya terkenal sangat taktis, punya kekuatan dan daya ledak saat membawa bola, serta memiliki tendangan voli luar biasa dan tembakan-tembakan magis.

Tak hanya timnya yang diuntungkan dengan kemampuan berkelasnya itu – belasan trofi ia hadirkan di lemari kaca Milan, Ajax, dan timnasnya – namun ia sendiri punya sederet penghargaan individual. Ia terpilih tiga kali menjadi pemain terbaik Eropa (1988, 1989, dan 1992) dan pemain terbaik dunia FIFA (1992). Selain menjelma menjadi salah satu legenda Belanda, Van Basten juga beberapa kali terpilih masuk dalam daftar pemain terbaik sepanjang masa yang dirilis oleh banyak pihak.

Kariernya di sepakbola profesional bermula ketika Ajax Amsterdam mengontraknya pada musim 1981/82 setelah menghabiskan 11 tahun di klub lokal Utrecht seperti EDO, UVV, dan Elinkwijk. Di Ajax, Van Basten muda menjelma menjadi salah satu striker matang di Eredivisie Belanda. Gol dalam debutnya pada April 1982 terus berlanjut hingga musim pamungkasnya di Ajax, dengan koleksi 128 gol dari 133 pertandingan. Penghargaan Sepatu Emas di tahun 1986 menjadi bukti kegemilangannya.

Presiden AC Milan Silvio Berlusconi lalu memboyongnya ke Italia pada musim panas 1987 dan diikuti dua kompatriotnya Ruud Gullit dan Frank Rijkaard setahun kemudian. Di musim pertamanya itu, Van Basten membawa Rossoneri meraih scudetto pertama dalam delapan tahun terakhir. Begitu Gullit-Rijkaard datang, Van Basten membentuk trio Belanda untuk membentuk generasi emas Setan Merah yang sukses menaklukkan Eropa selama dua musim berurutan (1988/89 vs Setaua, 1989/90 vs Benfica).

Van Basten melengkapinya dengan raihan Capocannoniere alias pencetak gol terbanyak di Serie A Italia sebanyak dua kali (1989/90, 1991/92). Di musim 1990/91, Milan kepayahan di kompetisi domestik dan Van Basten sempat berselisih paham dengan pelatih Arrigo Sacchi. Dua musim berikutnya, pengganti Sacchi, Fabio Capello, membawa Rossoneri tak terkalahkan sepanjang 58 pertandingan dengan raihan dua gelar scudetto.

Catatan penting lain Van Basten di Milan terjadi pada November 1992 ketika ia menjadi pemain pertama yang mencetak empat gol di Liga Champions melawan IFK Goteborg, termasuk salah satu tendangan bicycle kick-nya yang ikonik. Rekor tersebut baru bisa disamai 20 tahun kemudian oleh Lionel Messi ketika sang megabintang Bacelona itu melakukan hal serupa saat melawan Bayer Leverkusen.

Di level timnas, performa Van Basten tak kalah bagusnya. Ia tampil luar biasa di Euro 1988, menjadi topskor turnamen dengan lima gol, termasuk hat-trick ke gawang Inggris, dan menghadirkan Belanda trofi Piala Eropa, satu-satunya gelar Oranje di level internasional. Namun, di turnamen berikut yakni di Piala Dunia 1990 dan Piala Eropa 1992, ia gagal bersinar. Total ia mengoleksi 58 caps bersama Belanda dan melesakkan 24 gol.

Lalu, pada Mei 1993, cedera engkelnya kambuh saat melawan Ancona. Beberapa minggu berselang, ia masih bisa bermain saat Milan kalah 1-0 di final Liga Champions melawan Marseille. Sayangnya, itulah laga terakhir van Basten di saat usianya yang masih 28 tahun. Cedera ini memaksanya untuk menjalani serangkaian operasi yang membuatnya absen selama musim 1993/94 dan 1994/95. Harapan Van Basten untuk tampil di Piala Dunia 1994 menjadi pupus. Ia pun memutuskan gantung sepatu pada 17 Agustus 1995.

Menanggapi pengumuman pensiunnya itu Fabio Capello sempat berujar demikian, “Marco adalah striker terhebat yang pernah saya latih. Pensiun dininya adalah sebuah malapetaka yang tidak beruntung baginya, bagi sepakbola, dan bagi Milan.” Di Milan, total ia mencatatkan 90 gol dari 147 penampilan.

Ketika pensiun, ia menyatakan tak ingin berkecimpung lagi di lapangan hijau. Nyata-nyatanya ia kembali ke dunia sepakbola sebagai pelatih Jong Ajax (Ajax 2) pada musim 2003/04 sebelum secara mengejutkan ia ditunjuk Federasi Sepakbola Belanda (KNVB) sebagai pelatih timnas Belanda pada musim panas 2004 menggantikan Dick Advocaat.

Selama empat tahun menangani Oranje, ia memilih tak memanggil para pemain berumur seperti Clarence Seedorf, Patrick Kluivert, Edgar Davids, dan Roy Makaay serta sempat berkonflik dengan Ruud van Nistelrooy. Van Basten lalu berhasil membawa Belanda ke Piala Dunia 2006 sebelum disingkirkan Portugal 1-0 di babak 16 besar dalam drama hujan kartu.

Petualangannya bersama Oranje berakhir di Euro 2008. Sempat tampil mengejutkan dengan membabat tim kuat Italia dan Prancis di fase grup, Belanda terhenti di perempat-final setelah kalah dari Rusia 3-1. Musim 2008/09, ia langsung menangani Ajax namun hanya bertahan selama semusim setelah timnya hanya duduk di peringkat ketiga. Pada Februari 2012, ia ditunjuk untuk menukangi klub Eredivisie Belanda, SC Heerenveen, hingga saat ini.

Profil :

Nama lengkap: Marcel “Marco” van Basten

Tempat, tanggal lahir: Utrecht, Belanda, 31 Oktober 1964

Karier pemain:
– Ajax Amsterdam (1981–1987)
– AC Milan (1987–1995)
– Timnas Belanda (1983-1992)

Karier pelatih:
– Jong Ajax/Ajax 2 (2003-2004)
– Timnas Belanda (2004–2008)
– Ajax Amsterdam (2008–2009)
– Heerenveen (2012-…)

Koleksi Gelar:

Ajax
Eredivisie Belanda: 1981/82, 1982/83, 1984/85
KNVB Cup: 1982/83, 1985/86, 1986/87
UEFA Cup Winners Cup: 1986/87

AC Milan

Serie A: 1987/88, 1991/92, 1992/93
Supercoppa Italia: 1988, 1992
Piala Champions: 1988/89, 1989/90
Piala Super Eropa: 1989, 1990
Piala Intercontinental: 1989, 1990

Timnas Belanda
Piala Eropa 1988